Tuesday, 28 October 2014

Kapasitas Antioksidan Meningkat pada Makanan Iradiasi

Liputan6.com, Jakarta - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) memiliki cita-cita agar negeri ini mampu memaksimalkan penggunaan tenaga nuklir untuk maksud damai. Bentuknya tidak hanya di bidang energi, namun juga di bidang pangan, kesehatan, industri, transportasi, dan sumber daya alam lainnya.


Sebagian cita-cita tersebut sudah berhasil dilaksanakan. Sebagai contoh keberhasilan Batan antara lain di bidang pangan. Keberhasilan tersebut ditandai dengan penemuan beberapa varietas baru padi, kedelai, sorgun, dan gandum. Aplikasi tehnik nuklir lainnya dalam bidang pangan adalah untuk tujuan pengawetan.


“Hal ini untuk menjawab permasalahan pada bahan pangan yang mengalami tingkat kerusakan sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh pengaruh cuaca, serangan serangga, sampai kerusakan oleh mikroba,” kata Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto, baru-baru ini.


Pada dasarnya teknik pengawetan konvensional sudah ada sebelumnya, misalnya, dengan cara pengeringan, penggaraman, pemanasan, pembekuan, pengasapan dan fumigasi. Teknik nuklir dengan cara iradiasi hadir sebagai teknologi alternatif yang dapat dipertimbangkan dengan segala macam kelebihannya yaitu hemat energi dan bahan, prosesnya mudah dikontrol, dapat diaplikasikan pada kemasan yang tidak tahan panas, dan bersifat ramah lingkungan.


Keunggulan berikutnya adalah tidak adanya residu radioaktif karena besaran sumber radiasi sangat dibatasi sesuai dengan aturan dan standar pangan dunia tentang iradiasi pangan, seperti CODEX ALIMENTARIUS COMMISSION, ISO 14470 dan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 701/MENKES/PER/VIII/2009 tentang Pangan Iradiasi.


Pengawetan Pangan di Batan


Credit: Anri Syaiful


Source: http://ift.tt/13338Ru

No comments:

Post a Comment